LAPORAN
PENGGUNAAN METODE DISKUSI
UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR
SISWA KELAS IV MATA PELAJARAN MATEMATIKA TENTANG BANGUN RUANG
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pemantapan Kemampuan Professional PDGK 4501
Oleh :
NIM.
UNIVERSITAS TERBUKA
UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH ..........
KELOMPOK BELAJAR .................
2010.1
RINGKASAN
“PENERAPAN METODE DISKUSI PLUS PRAKTEK MATA PELAJARAN MATEMATIKA PADA SISWA KELAS IV DI SDN ..................................”
nama,NIM 16 halaman,................................., UPBJJ ....................., Universitas Terbuka.
Pada umumnya siswa telah mengenal ide-ide matematika melalui pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari, mereka mengembangkan ide-ide yang lebih kompleks misalnya bilangan, pola bentuk, ukuran. Pembelajaran di sekolah akan menjadi lebih bermakna apabila guru mengaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Misalnya bermain laying-layang, geometri ukuran, jarak, waktu.
Jika guru memberikan pengalaman yang bermakna, maka siswa akan mendapat suatu pengertian. Guru professionallah yang bisa mengarahkan siswanya dengan baik. Guru professional adalah seorang guru yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan, bertanggung jawab serta mampu melaksanakan tugas dan fungsinya seoptimal mungkin.
Guru mempunyai tanggung jawab yang sangat besar, tidak hanya pada transfer knowledge pada peserta didik tetapi juga bertanggung jawab pada perubahan otalitas kepribadian anak saja pendewasaan kobhitif, efektif, dan psikomotoriknya.
Secara umum, tugas dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai fasilitator yang bertujuan menciptakan situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar pada diri murid. Selain sebagai fasilitator, guru hendaknya dapat mengaktifkan murid dalam pembelajran baik melalui kegiatan Tanya jawab, kegiatan kelompok diskusi maupun kerja kelompok.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan teman sejawat tentang apa yang dilakukan siswa bahwa dalam memahami materi bangun ruang siswa merasa bingung dengan contoh yang jadi seperti, meja, lemari, televisi dan lain-lain. Disini siswa merasa kesulitan kalau hanya mendengar apa yang disampaikan guru.metode diskusi plus praktek adalah solusi yang menjanjikan untuk bisa mengatasi hal di atas.
Pembelajaran yang berlangsung antara guru dan siswa haru menunjukkan keharmonisan, keselarasan serta saling berinteraksi sehingga suasana pembelajaran yang terjadi sangat menyenangkan dan hidup. Namun dari hasil teman sejawat pembelajaran yang dilaksanakan peneliti tidak mencerminkan hal-hal tersebut di atas, metode yang diberikan hanya ceramah konvensional tanpa di selingi humor-humor yang menyegarkan suasana. Pembelajaran yang berlangsung terkesan pasif dan hening karena hanya guru yang berpidato tanpa ada alat bantu yang mendukung pembelajaran.
Perbedaan sifat, latar belakang (ekonomi, keluarga, sosial, lingkungan) sangat mempengaruhi siswa dalam menerima pelajaran. Ada yang diam tapi setelah ditanya hanya membantu, ada yang ramai saat pelajaran berlangsung namun setelah ditanya benar dalam menjawab. Seorang guru yang cerdas harus mengerti akan adanya keragaman cirri-ciri tersebut, baik dalam merancang dan menerapkan pembelajaran maupun dalam memberikan bimbingan dan tugas-tugas guru haruslah menyelesaikan dengan perbedaan yang ada.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap tingkah laku murid dikelas dan hasil evaluasi dapat diketahui bahwa tingkat penyaringan antara siswa sangat berbeda satu dengan yang lain. Nilai antara siswa yang memiliki intelegensia tinggi dan rendah masih mencolok perbedaannya. Agar kesenjangan nilai ini tidak terlalu jauh, guru perlu membantu meningkatkan motivasi siswa sehingga mereka terdorong untuk melakukan usaha pencapaian tujuan pembelajaran.
Dari hasil refleksi tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan diperoleh gambaran bahwa untuk meningkatkan kemampuan siswa perlu menggunakan dan menerapkan metode diskusi plus praktek yang orientasinya praktek kerja kelompok. Setelah diadakan perbaikan pembelajaran bidang studi matematika nilai yang diperoleh siswa masih belum memenuhi ketuntasan belajar sehingga di perbaiki di siklus II.